Inilah Aku-Perkenalan (Part 1)

Perhatian: Sebagian besar dari kisah ini diadaptasi dari kejadian sebenarnya. Nama-nama tokoh dan lokasi yang ada di cerita ini sudah disamarkan. Jika ada kesamaan nama dan lokasi bukan unsur kesengajaan.


Sinar matahari pagi itu sangat hangat. Menembus pori-pori kulitku yang semakin halus dan putih. Ku putuskan untuk pergi berjalan-jalan di sekitar rumah pagi itu, untuk lebih menikmati karunia Tuhan ini. Ku ganti baju tidurku, ku ambil pakaian olahraga di dalam lemari pakaian. Tak lupa, jilbab segi empat favoritku yang berwarna biru, senada dengan baju olahraga yang kupakai kali ini. Ku poles sedikit lipstik di bibir warna peach, supaya tidak terlihat pucat. Aku pun pamit kepada kedua orang tuaku yang sedang asyik menyeruput teh hangat sembari menonton tv.



“Pa, ma, aku jogging sebentar di deket rumah ya. Assalammu’alaikum,” pamitku.

“Iya nduk, hati-hati ya. Wa’alaikumsalam,” pesan mamaku. Aku pun langsung pergi menikmati sinar pagi yang menyehatkan itu.

Namaku Fitri Cahyaningrum. Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Kakak pertamaku laki-laki, yang bekerja di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bontang, Kaltim. Kakak keduaku perempuan, dia kini ikut dengan suaminya membuka bisnis kos-kosan di Malang, Jatim. Sedangkan adikku laki-laki, masih berada di bangku SMP kelas 2.

Tak terasa, sudah lima tahun aku menjalani kehidupan ini. Kehidupan yang dulunya suram, penuh dengan tindakan bullying, dan sebagainya. Kini jadi lebih berwarna, dikelilingi oleh orang-orang yang kucintai dan menyayangi aku. Ya, sebelumnya aku adalah seorang laki-laki. Nama asliku adalah Fadil. Lima tahun lalu, tepatnya pada umur 13 tahun aku menjalani transisi sebagai perempuan. Banyak suka duka yang kulewati agar bisa seperti saat ini. Beginilah sedikit cerita yang akan kubagi.


Lima tahun lalu adalah masa-masa paling berat yang kujalani. Tekanan batin ini begitu berat. Antara memutuskan tetap menjadi laki-laki, atau menjadi perempuan. Tapi aku merasa, jiwa ini berada di tubuh yang salah.

“Seharusnya aku dilahirkan sebagai perempuan!” keluhku dalam hati.

Namun daripada memikirkan itu, lebih baik ku damaikan dulu perasaan dalam hati ini. Sudah sejak TK, aku suka melihat bagaimana mama dan kakak keduaku berdandan, memadu padankan pakaian, dan segala aktivitas perempuan lainnya. Dalam hati, ingin ku ikut berdandan seperti mereka. Ingin juga ku terlihat cantik. Tapi, aku seorang laki-laki.

Saat SD pun, diam-diam ku ambil baju kakak keduaku di kamarnya saat ia bersekolah, dan tentu saat keadaan rumah sedang sepi. Aku coba rok sekolahnya, aku coba dasternya, baju gamis dan jilbabnya, dalamannya, dan lain-lain. Saat itu, aku merasa nyaman. Aku lebih cantik seperti ini.

“Harusnya aku seperti ini,” kataku dalam hati.

Kesempatan itu pun selalu kulakukan kala rumah sepi. Mulai mencoba make up, belajar pakai jilbab segi empat, pakai baju senam dan renangnya, dan lain-lain. Bahkan suatu saat, aku pernah nekat memakai BHnya di balik baju yang kupakai. Memang terlihat sedikit menonjol, tapi tampaknya tak ada orang yang perhatian. Aku pun pakai hingga tidur, dan kukembalikan esok harinya saat rumah sepi.

Kejadian ini pun terus berlanjut hingga aku kelas 2 SMP. (bersambung)

Komentar

  1. Tritanium dioxide in food - Indian Tritanium
    Tritanium dioxide titanium white wheels is a chemical compound which titanium flash mica gives titanium jewelry the form of chemical samsung titanium watch compounds known as tritanium oxide. When mixed with food, it gives ion titanium on brassy hair a more complex,

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah Aku-Ketahuan (Part 2)

Inilah Aku-Keputusan (Part 5)