Inilah Aku-Keputusan (Part 5)
Jarum jam sudah berada di angka 8. Aku mulai bersiap-siap untuk mandi, karena pagi ini aku harus ikut ke rumah sakit.
Mataku masih tampak bengkak karena semalaman menangis. Pun suasana rumah jadi tak seramai biasanya. Semuanya serba terdiam. Seperti tak menyangka ada kejadian ini.
Ku langkahkan kaki ke kamar mandi. Tampak ku lihat papa dan mamaku kembali memandangiku. Aku yang kini terang-terangan pakai pakaian perempuan.
Sejak ketahuan semalam, aku tekad tak mau pakai pakaian laki-laki lagi. Toh udah kepalang basah ketahuan, dan sudah kuutarakan niatku jadi perempuan.
Sampai di kamar mandi, kulepas satu persatu pakaianku. Daster lembut dari satin itu kugantung di pintu kamar mandi. Kulepas perlahan bra kawat yang membentuk payudaraku, dan celana dalam lembut yang melindungi kemaluanku.
Kini aku sudah tak lagi menangis. Sudah siap menatap apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Dil, ayo cepat. Pakaianmu udah mama siapkan di kamar ya," kata mama sejenak mengaburkan lamunanku saat mandi.
"Iya ma, sebentar lagi selesai," kataku.
Segera kutuntaskan mandiku, dan kukeringkan badanku dengan handuk. Jika dulu kulilitkan di pinggang, kini handuk tersebut melilit mulai dadaku.
Aku pun segera menuju kamar, dan alangkah kagetnya mama sudah menyiapkan baju gamis, bra, celana dalam, manset, serta jilbab di atas kasur.
"Baiklah, kali ini aku akan tampil lebih cantik supaya bisa meyakinkan dokter dan orang tuaku," gumamku dalam hati sambil tersenyum kecil.
Kupoleskan satu persatu makeup di wajahku. Dan mulai kukenakan gamis bewarna biru muda itu, yang senada dengan jilbabnya. Kini aku tampak dilahirkan kembali, bukan sebagai Fadil. Namun sebagai Fitri Cahyaningrum.
Menuju rumah sakit, aku hanya terdiam duduk di kursi tengah. Sementara papa yang membawa mobil, dan mama menemani di kursi depan. Ada keheningan yang canggung sepanjang perjalanan sampai rumah sakit. Sampai tiba di parkiran, papa tiba-tiba berkata,
"Dil, kalau ini memang jadi pilihan kamu, maka bertanggungjawablah terhadap pilihan kamu sendiri. Papa dan mama hanya pesan untuk kamu tetap jaga nama baik keluargamu."
Setelah mendengar nasihat itu yang tiba-tiba, aku mulai tersenyum. Tak kusangka papa juga sudah mulai menerima.
"Terima kasih pa," kataku sambil kupeluk papaku. Saat ini rasanya seperti bapak dan anak perempuannya yang melepas rindu.
Kami pun turun dari mobil, dan menemui psikiater yang sudah janji akan "memeriksa" aku. dr.Ayu, Psi namanya. Ia masih kelihatan muda meski sudah berumur 40 tahun. Psikiater berhijab ini menyambut aku dan keluargaku dengan hangat.
"Oh ini yang namanya Fadil ya, ayo masuk. Cantik sekali hari ini," katanya memujiku.
Baru kali ini aku dipuji oleh orang lain. Mukaku hanya bisa memerah dan tersipu malu.
Papaku pun memulai pembicaraan. Setelah dirasa cukup, dr. Ayu meminta aku tetap tinggal di ruangan, sementara papa dan mama menunggu di luar. Proses interview pun dimulai.
Hampir 2 jam lamanya proses interview. Lebih dari 200 pertanyaan diajukan. Meski lelah, aku tetap optimistis hasilnya akan baik sesuai harapan. Setelah seluruh proses interview ini selesai, dr. Ayu memanggil papa dan mama.
"Pak, bu, berdasarkan hasil interview bersama Fadil, anak ibu didiagnosa mengalami disporia gender. Dan dari yang saya amati dan hasil interviewnya didapatkan, anak ibu cenderung ke arah perempuan," papar dr. Ayu.
Seperti sudah aku duga, hasil tersebut sesuai yang kuharapkan. Setelah pemaparan itu, dr. Ayu ternyata masih melanjutkan.
"Kami kasih dua pilihan untuk anak bapak dan ibu, pertama adalah terapi kejiwaan. Anak bapak dan ibu akan kami terapi sampai sembuh. Yang kedua, kami berikan terapi pergantian hormon untuk transisinya menjadi perempuan. Karena Fadil masih belum puber, jadi masih ada kesempatan untuk menekan hormon testosteronnya dan diganti dengan hormon estrogen," lanjutnya.
Mendengar hal itu, papa pun berkata, "Saya serahkan semua pilihannya kepada anak saya, karena dia yang akan menjalaninya nantinya."
Ketiga pasang mata pun langsung menoleh kepadaku. Dan akhirnya aku putuskan, "Ini kehidupanku, aku suka dan merasa jadi diri sendiri saat ini. Aku ambil pilihan kedua." (Bersambung)
Mataku masih tampak bengkak karena semalaman menangis. Pun suasana rumah jadi tak seramai biasanya. Semuanya serba terdiam. Seperti tak menyangka ada kejadian ini.
Ku langkahkan kaki ke kamar mandi. Tampak ku lihat papa dan mamaku kembali memandangiku. Aku yang kini terang-terangan pakai pakaian perempuan.
Sejak ketahuan semalam, aku tekad tak mau pakai pakaian laki-laki lagi. Toh udah kepalang basah ketahuan, dan sudah kuutarakan niatku jadi perempuan.
Sampai di kamar mandi, kulepas satu persatu pakaianku. Daster lembut dari satin itu kugantung di pintu kamar mandi. Kulepas perlahan bra kawat yang membentuk payudaraku, dan celana dalam lembut yang melindungi kemaluanku.
Kini aku sudah tak lagi menangis. Sudah siap menatap apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Dil, ayo cepat. Pakaianmu udah mama siapkan di kamar ya," kata mama sejenak mengaburkan lamunanku saat mandi.
"Iya ma, sebentar lagi selesai," kataku.
Segera kutuntaskan mandiku, dan kukeringkan badanku dengan handuk. Jika dulu kulilitkan di pinggang, kini handuk tersebut melilit mulai dadaku.
Aku pun segera menuju kamar, dan alangkah kagetnya mama sudah menyiapkan baju gamis, bra, celana dalam, manset, serta jilbab di atas kasur.
"Baiklah, kali ini aku akan tampil lebih cantik supaya bisa meyakinkan dokter dan orang tuaku," gumamku dalam hati sambil tersenyum kecil.
Kupoleskan satu persatu makeup di wajahku. Dan mulai kukenakan gamis bewarna biru muda itu, yang senada dengan jilbabnya. Kini aku tampak dilahirkan kembali, bukan sebagai Fadil. Namun sebagai Fitri Cahyaningrum.
Menuju rumah sakit, aku hanya terdiam duduk di kursi tengah. Sementara papa yang membawa mobil, dan mama menemani di kursi depan. Ada keheningan yang canggung sepanjang perjalanan sampai rumah sakit. Sampai tiba di parkiran, papa tiba-tiba berkata,
"Dil, kalau ini memang jadi pilihan kamu, maka bertanggungjawablah terhadap pilihan kamu sendiri. Papa dan mama hanya pesan untuk kamu tetap jaga nama baik keluargamu."
Setelah mendengar nasihat itu yang tiba-tiba, aku mulai tersenyum. Tak kusangka papa juga sudah mulai menerima.
"Terima kasih pa," kataku sambil kupeluk papaku. Saat ini rasanya seperti bapak dan anak perempuannya yang melepas rindu.
Kami pun turun dari mobil, dan menemui psikiater yang sudah janji akan "memeriksa" aku. dr.Ayu, Psi namanya. Ia masih kelihatan muda meski sudah berumur 40 tahun. Psikiater berhijab ini menyambut aku dan keluargaku dengan hangat.
"Oh ini yang namanya Fadil ya, ayo masuk. Cantik sekali hari ini," katanya memujiku.
Baru kali ini aku dipuji oleh orang lain. Mukaku hanya bisa memerah dan tersipu malu.
Papaku pun memulai pembicaraan. Setelah dirasa cukup, dr. Ayu meminta aku tetap tinggal di ruangan, sementara papa dan mama menunggu di luar. Proses interview pun dimulai.
Hampir 2 jam lamanya proses interview. Lebih dari 200 pertanyaan diajukan. Meski lelah, aku tetap optimistis hasilnya akan baik sesuai harapan. Setelah seluruh proses interview ini selesai, dr. Ayu memanggil papa dan mama.
"Pak, bu, berdasarkan hasil interview bersama Fadil, anak ibu didiagnosa mengalami disporia gender. Dan dari yang saya amati dan hasil interviewnya didapatkan, anak ibu cenderung ke arah perempuan," papar dr. Ayu.
Seperti sudah aku duga, hasil tersebut sesuai yang kuharapkan. Setelah pemaparan itu, dr. Ayu ternyata masih melanjutkan.
"Kami kasih dua pilihan untuk anak bapak dan ibu, pertama adalah terapi kejiwaan. Anak bapak dan ibu akan kami terapi sampai sembuh. Yang kedua, kami berikan terapi pergantian hormon untuk transisinya menjadi perempuan. Karena Fadil masih belum puber, jadi masih ada kesempatan untuk menekan hormon testosteronnya dan diganti dengan hormon estrogen," lanjutnya.
Mendengar hal itu, papa pun berkata, "Saya serahkan semua pilihannya kepada anak saya, karena dia yang akan menjalaninya nantinya."
Ketiga pasang mata pun langsung menoleh kepadaku. Dan akhirnya aku putuskan, "Ini kehidupanku, aku suka dan merasa jadi diri sendiri saat ini. Aku ambil pilihan kedua." (Bersambung)

Lanjutkan ! ! ! 😅
BalasHapusSedikit koreksi. Psikiater itu gelarnya adalah Sp.KJ. Sedangkan psikolog adalah S.Psi. Keduanya berbeda, dimana psikiater dari latar belakang kedokteran, dan boleh meresepkan obat (anti depressan) kepada pasien. Sedangkan psikolog dari latar belakang psikologi, dan sama sekali tidak bisa meresepkan obat. Tambahan, tools yang digunakan untuk menegakkan diagnosis adalah tes MMPI (500 soal) ditambah wawancara. Dan apalagi tokoh utama diantar orang tua, seharusnya di kesempatan itu orang tua juga ditanya oleh psikiaternya.
BalasHapusSelain itu, untuk terapi hormon, psikiater tidak memiliki kewenangan meresepkan hormon. Ybs harus membuat surat rujukan ke spesialis obstetri & ginekologi c.q. endokrinologi, atau ke spesialis andrologi.
Lanjut kan min, penasaran ama pilihannya
BalasHapusSeru ceritanya nih lanjut dong
BalasHapus