Inilah Aku-Pengakuan (Part 3)
Di kamarnya yang cukup luas itu, kakakku mulai menginterogasiku. Aku hanya duduk di pinggir kasurnya, dengan kaki yang kurapatkan dan kepala tetap tertunduk. Jantungku pun terus berdegup dengan kencang.
“Ngapain kamu berpakaian gitu?” tanya kakak pertamaku itu.
“Sudah lama, mas,” jawabku sekenanya.
“Kamu mau jadi banci apa?” tanyanya sedikit membentak.
Aku hanya diam. Dalam hati ku jawab “Aku bukan banci mas, aku perempuan!”
Setelah tidak kujawab, aku pun didiamkan oleh kakakku. Sedangkan dia kembali menonton tv dengan membelakangiku. Tak terasa, air mataku sudah mulai tumpah membasahi tanganku yang sedari tadi memegangi pahaku dengan erat. Aku sudah tak peduli bedakku luntur. Yang kupikirkan sekarang, “selanjutnya apa?”
Hampir setengah jam lamanya aku didiamkan, kakakku kemudian beranjak.
“Ayo ke bawah, ku kasih tahu mama kamu!” katanya.
Aku pun sedikit memohon untuk tidak memberitahu siapapun, namun kakakku mengelak, bahkan mengancam akan memukulku. Aku pun terdiam dan hanya bisa ikut dengannya. Dalam keadaan ini, aku sudah pasrah apapun yang terjadi.
Kakakku kemudian masuk ke kamar orang tuaku, dan membangunkan mamaku. Jantungku pun semakin berdegup kencang. Tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Setelah keluar kamar, mamaku pun langsung berkata, “Ya Allah dil kamu ngapaiiin?”
Tak terasa air mata ini langsung tumpah. Aku tak bisa lagi membendung tangisku. Ku peluk mamaku, dan kuucapkan maaf kepadanya. Aku pun akhirnya membuat pengakuan di saat seperti ini.
“Maafkan Fadil ma,” kataku sambil menangis. Kakakku hanya bisa melihat saja.
“Kamu mau apa toh nak,” ujar mamaku.
“Aku mau jadi perempuan ma, aku sudah tak tahan. Fadil mau jadi diri sendiri ma,” jawabku.
Mamaku pun seperti menahan amarah dan tangisnya. Namun masih bisa bertahan. Dia pun dengan lembut membelai kepalaku yang masih memakai jilbab itu.
“Sudah, ayo tidur dulu. Ganti dulu bajunya ya,” katanya dengan penuh kelembutan.
Aku pun mulai mengeringkan air mataku. Ku lepas lagi jilbabku dan seluruh pakaianku di kamar. Mama dan kakakku cuma memandanginya. Namun, aku tidak melepas BH dan celana dalamku. Ku ambil daster yang ada di tasku dan kupakainya. Ku rapikan kembali baju yang telah kupakai tadi dan kumasukkan ke dalam tas. Aku pun langsung ke tempat tidur dan berbaring, sementara mamaku mengelus kepalaku. Aku pun kemudian tertidur sampai subuh menjelang. (bersambung)
“Ngapain kamu berpakaian gitu?” tanya kakak pertamaku itu.
“Sudah lama, mas,” jawabku sekenanya.
“Kamu mau jadi banci apa?” tanyanya sedikit membentak.
Aku hanya diam. Dalam hati ku jawab “Aku bukan banci mas, aku perempuan!”
Setelah tidak kujawab, aku pun didiamkan oleh kakakku. Sedangkan dia kembali menonton tv dengan membelakangiku. Tak terasa, air mataku sudah mulai tumpah membasahi tanganku yang sedari tadi memegangi pahaku dengan erat. Aku sudah tak peduli bedakku luntur. Yang kupikirkan sekarang, “selanjutnya apa?”
Hampir setengah jam lamanya aku didiamkan, kakakku kemudian beranjak.
“Ayo ke bawah, ku kasih tahu mama kamu!” katanya.
Aku pun sedikit memohon untuk tidak memberitahu siapapun, namun kakakku mengelak, bahkan mengancam akan memukulku. Aku pun terdiam dan hanya bisa ikut dengannya. Dalam keadaan ini, aku sudah pasrah apapun yang terjadi.
Kakakku kemudian masuk ke kamar orang tuaku, dan membangunkan mamaku. Jantungku pun semakin berdegup kencang. Tak tahu lagi apa yang akan terjadi. Setelah keluar kamar, mamaku pun langsung berkata, “Ya Allah dil kamu ngapaiiin?”
Tak terasa air mata ini langsung tumpah. Aku tak bisa lagi membendung tangisku. Ku peluk mamaku, dan kuucapkan maaf kepadanya. Aku pun akhirnya membuat pengakuan di saat seperti ini.
“Maafkan Fadil ma,” kataku sambil menangis. Kakakku hanya bisa melihat saja.
“Kamu mau apa toh nak,” ujar mamaku.
“Aku mau jadi perempuan ma, aku sudah tak tahan. Fadil mau jadi diri sendiri ma,” jawabku.
Mamaku pun seperti menahan amarah dan tangisnya. Namun masih bisa bertahan. Dia pun dengan lembut membelai kepalaku yang masih memakai jilbab itu.
“Sudah, ayo tidur dulu. Ganti dulu bajunya ya,” katanya dengan penuh kelembutan.
Aku pun mulai mengeringkan air mataku. Ku lepas lagi jilbabku dan seluruh pakaianku di kamar. Mama dan kakakku cuma memandanginya. Namun, aku tidak melepas BH dan celana dalamku. Ku ambil daster yang ada di tasku dan kupakainya. Ku rapikan kembali baju yang telah kupakai tadi dan kumasukkan ke dalam tas. Aku pun langsung ke tempat tidur dan berbaring, sementara mamaku mengelus kepalaku. Aku pun kemudian tertidur sampai subuh menjelang. (bersambung)

Ceritanya bagus, cuma untuk perpart bisa dipanjangin lagi ceeitanya biar seru. Soalnya ketika ceritanya lagi seru - serunya kok malah berakhir
BalasHapusLanjut Lanjut Lanjut. :v
BalasHapusLanjut dong
BalasHapus